Bangsa Indonesia Dijajah Secara Tidak Kasat Mata!
Pemerintahan

Bangsa Indonesia Dijajah Secara Tidak Kasat Mata!

Borobudur,(magelang.sorot.co)--Menyongsong Hari Kebangkitan Nasional yang ke-110 pada 20 Mei mendatang, Indonesia saat ini masih dalam kondisi terjajah. Meski tidak secara fisik terjajah, namun pemikiran dan cara pandang anak bangsa terjajah secara budaya yang sudah tidak lagi menjunjung tinggi adat ketimuran.

Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Heri Santoso, menyampaikan, meski negara Indonesia ini telah memperingati Hari Kebangkitan Nasional selama 110 tahun, namun secara relevan bangsa ini masih belum merdeka dalam arti yang sesungguhnya.

"Mungkin kita sepakat pada tanggal 17 Agustus 1945 kita sudah merdeka. Namun pertanyaannya, betulkah kita sudah berdaulat dibidang politik, ekonomi, dan kebudayaan" ujar Heri dalam acara peningkatan kebangsaan yang diselenggarakan oleh Kesbangpol Kabupaten Magelang menggandeng Persatuan Purnawirawan ABRI (PEPABRI) di Balkondes Kembanglimus, Borobudur, Selasa (15/5/2018).

Selain Heri, turut hadir Forkopimcam Borobudur, Ketua DPC PEPABRI, Ketua FKDM Kabupaten Magelang, Ketua FKUB Kabupaten Magelang, dan juga beberapa siswa SMA dari Kecamatan Borobudur. 

Maka dari itu, lanjut Heri, juga melibatkan anak-anak sekolah dan pemuda yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Karena mereka pada saat ini sudah menjadi generasi yang masuk dalam revolusi industri digital.

"Maka konsekuensinya maka semangat kebangkitan nasional harus kita olah kembali di era digitalisasi ini, dan ini bukanlah suatu hal yang mudah" terang Heri.

Menurut Heri, tantangan yang akan dialami oleh para penerus bangsa ini antara lain, digitalisasi, terorisme, gerakan radikal, dan narkoba juga tidak kalah pentingya untuk kita bimbing agar tidak terjerumus kedalam hal tersebut.

"Perbedaannya mereka dulu dijajah secara kasat mata, namun di era sekarang ini mereka dijajah dengan cara-cara tidak kasat mata, dan inilah yang harus kita waspadai" terang Heri.

Terkait terorisme dan gerakan radikal yang ada di Indonesia, Heri menjelaskan bahwa terorisme sendiri dapat dibagi menjadi dua, yakni internal dan eksternal.

"Menurut saya, terorisme internal biasanya sering digunakan bagi yang ingin mendapatkan kekuasan tetapi belum mendapatkan kekuasaan, dan yang sudah mendapatkan kekuasaan ingin mempertahankan kekuasan. Sedangkan terorisme eksternal berasal dari asing, yang tujuannya agar negara indonesia ini tidak menjadi negara yang besar. Karena kita tahu bangsa negara ini adalah bangsa yang besar yang memiliki kekayaan alam yang sungguh luar biasa" pungkas Hari.