Digusur Pemerintah, Warga: Kami Diusir Seperti Hewan!
Ekonomi

Digusur Pemerintah, Warga: Kami Diusir Seperti Hewan!

Magelang Tengah,(magelang.sorot.co)--Relokasi dan pengosongan puluhan rumah yang dianggap liar di kawasan Jalan Soekarno-Hatta Magelang penuh dengan keluhan dari masyarakat. Warga yang tinggal di lahan seluas kurang lebih 5 hektare tersebut merasa tidak mendapatkan solusi dan perhatian dari Pemerintah Kota Magelang dalam menyelesaikan masalahnya tersebut.

Warga sebetulnya sudah disarankan oleh Pemkot untuk pindah ke Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Tidar. Namun karena mayoritas warga yang tinggal bekas tanah bengkok tersebut memiliki mata pencaharian sebagai pemulung, mereka pun merasa keberatan.

"Warga di sini ini hampir semuanya kan pemulung yang berhubungan dengan sampah, jika kita pindah di rusunawa tentu saja kita tidak bisa. Rusunawa sendiri kan harus bersih," ujar Totok (57), salah satu warga yang digusur, Selasa (2/10/2018).

Dirinya juga mengaku kecewa dengan kebijakan pemerintah yang tidak memberikan kompensasi sasi apapun.

"Sedih sekali rasanya mas, kita sama sekali tidak mendapatkan kompensasi atau uang bongkar rumah. Kita rasanya urip-uripan, nelongso sekali mas, seolah-olah kita diusir seperti hewan, malah lebih parah dari hewan karena hewan saja dicarikan tempat tapi kalau kita tidak," keluhnya.

Pria yang juga beternak ayam tersebut mengaku harus membayar tenaga orang untuk membongkar seluruh rumah dan kandangnya.

"Satpol PP juga membantu, tapi hanya membantu mengangkut saja. Sedangkan untuk membongkar saya harus sewa tenaga," imbuhnya.

Hal serupa juga dialami oleh Watini, ia mengaku tidak mendapatkan kompensasi sepeserpun dari pemerintah. Dia mengaku enggan menempati rusunawa yang identik dengan kondisi yang bersih, sedangkan dirinya berprofesi sebagai pemulung. 

"Ya tidak mungkin lah kita tinggal di sana, kalau tinggal di sana tentunya tidak ada tempat rongsok kami, sedangkan mata pencaharian kami dari rongsok," ucapnya sambil bersender di tiang rumahnya yang juga akan dirobohkan karena akan dibangun Pasar Induk Kota Magelang.

Dengan kondisi tersebut dirinya pun terpaksa harus membeli sebidang tanah yang berada di pinggir sungai belakang pom bensin kawasan Jalan Soekarno-Hatta.

"Kami beli tanah di sana dengan cara patungan, namun kondisinya memang kuranglah layak untuk ditempati oleh manusia," keluhnya.

Wati sendiri mengaku tidak ada akses jalan yang menuju lokasi dimana saat ini didirikannya rumah yang berasal dari bambu itu. Dirinya juga mengaku kesulitan untuk mendapatkan air bersih di tempat yang dulunya adalah sebuah persawahan itu. 

"Air yang berasal dari sungai di sana sangatlah kotor, bahkan terasa gatal jika digunakan untuk mandi, maka dari itu kami harus mengambil air di sini (tempat yang digusuran) untuk memasak dan mandi," bebernya.

Selain itu dirinya juga mengaku harus menggunakan setir atau lilin sebagai penerangan rumahnya, karena masih belum ada saluran listrik disana.

"Bahkan ada juga yang gelap-gelapan," imbuhnya.