Dianggap Bermasalah, Polisi Diminta Mengusut Kasus Dancing Fountain
Hukum & Kriminal

Dianggap Bermasalah, Polisi Diminta Mengusut Kasus Dancing Fountain

Magelang Utara,(magelang.sorot.co)--Polemik soal anggaran Dancing Fountain atau  air mancur menari di Alun-alun Kota Magelang yang diduga mengalami mal administrasi saat proses penganggarannya itu ternyata menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Anggaran yang mencapai Rp 4,8 miliar tersebut sebelumnya tidak direstui oleh Komisi C DPRD Kota Magelang namun ditetapkan di paripurna DPR.

Masalah itupun menuai kritik dari Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Magelang, Irfi Maslachatul Ummah. Dia menilai ada unsur kesengajaan dalam penyalahgunaan wewenang dan penipuan dalam hal ini.

"Saya pikir masalah ini pasti ada dalangnya, tidak mungkin anggaran yang sebelumnya telah di coret di Komisi C tiba-tiba bisa masuk paripurna DPR kalau tidak ada dalang yang memainkannya," ucapnya, Selasa (30/10/2018).

Aktivis yang sering dipanggil Irfi itupun menilai jika masalah ini tidak hanya sekedar mal administrasi saja, namun sudah masuk dalam kategori penipuan.

"Masalah ini saya pikir bukan sekedar mal administrasi saja, tapi ini sudah masuk dalam unsur penipuan yang masuk dalam kategori pidana. Karena apa, disini saya pikir ada yang telah ditipu yaitu masyarakat dan tentunya Komisi C DPRD Kota Magelang yang telah mencoret anggaran tersebut," jelasnya.

Perempuan berkerudung itupun meminta agar jajaran Polres Magelang Kota untuk tidak hanya menyelidiki masalah pengerjaan proyek yang diduga menimbulkan kerugian negara dalam proyek air mancur menari yang dilaksanakan PT Aditya Mulya KSO Linggarjati, namun masalah penganggarannya pun harus diselidiki oleh pihak kepolisian.

"Kalau masalah pengerjaan proyek memang harus diselidiki karena secara logika pandangan kasat mata anggaran Rp 4,8 miliar itu terlalu besar dengan kondisi air mancur yang seperti saat ini. Dan selidiki juga proses penganggarannya, saya yakin tidak akan ada asap kalau tidak ada api, dan saya yakin seyakin-yakinnya disini pasti ada dalangnya," tegasnya.

Irfi pun meminta agar pihak kepolisian betul-betul serius dan cepat dalam menangani kasus yang telah menjadi bahan diskusi diberbagai kalangan masyarakat.

"Polisi harus cepat dalam mengusut kasus ini, jangan biarkan tikus-tikus berdasi itu bersembunyi dengan baju kebanggaannya," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang, Eddy Sutrisno, pun menilai jika proyek dancing fountain itu terlalu mahal.

"Di daerah lain nilainya hanya sekitar Rp 1,5-2 miliar saja, tapi di sini mencapai Rp 5 miliar," ucapnya.

Pria yang sempat duduk di kursi DPRD Kota Magelang itupun menilai jika polemik ini bukan sekedar ada tindakan mal administrasi tetapi ada juga unsur ketidaktertiban anggaran.

"Kalau mau tertib anggaran, ya detail-detail kegiatan akan dibahas di komisi. Semua anggaran akan lewat pembahasan di komisi. Kemudian diselaraskan di banggar untuk disepakati atau tidak. Rapat paripurna yang kemudian mengesahkan menjadi perda. Kalau kemudian tiba-tiba muncul  lagi diparipurna, setelah dicoret, ya berarti tidak tertib anggaran. Bahkan bisa dikatakan ada unsur kebohongan atau penipuan," jelasnya.